Dia

Based on True Story.

Dia.  Nama yang unik. Seperti kata ganti orang ketiga dalam bahasa Indonesia. Dia adalah sosok lelaki yang tidak begitu modern dan tidak begitu ndeso. Namun, kedewasaan dan kebijakannya dalam berpikir dan bertindak membuatku selalu terkagum akan sosoknya.

5 Tahun yang lalu aku bertemu dengan Dia disebuah tempat menimba ilmu. Dia sosok yang menjengkelkan dan usil. Dia dan teman2nya selalu meledekku dengan khasnya. Dia tinggal di Pulau sebrang dan saat itu Dia tinggal di kost dengan temannya. Dia menimba ilmu ditempat aku pun menimba ilmu. Waktu itu, aku tidak mengenal sosok Dia karena Dia tidak begitu banyak bicara pada waktu itu. Sedangkan aku, aku anak yang selalu bicara. Dia memanggilku si Bawel, karena ya..aku memang bawel. Setelah 3bulan pertemuan aku dan Dia, kita pun semakin dekat. Waktu itu aku masih punya kekasih, dan Dia pun memiliki foto seorang gadis cantik didompetnya. Jujur, waktu itu aku tidak memiliki rasa kepada Dia. Hingga suatu malam, Dia menelponku lewat wartel. Dan kita banyak bicara, pada saat itulah aku menemukan sosok Dia yang menyenangkan. Aku nyaman dengan Dia.

Pada akhirnya, aku dan Dia pun telah selesai menimba ilmu. Kita pun berpisah, Dia kembali kepelukan Ibu nya di Sebrang. Dan aku melanjutkan kehidupanku. Perlahan aku meyakinkan diriku kalau perasaanku dengan Dia hanyalah simpatik. Aku pun larut dalam kehidupan pribadiku dan perlahan melupakan Dia.

Hingga pada suatu hari, kriiiiiiiiiiiiiinnngg. “Hallo, assalamualaikum..” jawabku. “Walaikumsalam, ini Citra yaa..” tanya sosok itu. “Iyaa..maaf ini siapa yaa?” tanyaku. “Hayoo tebak ini siapa?? ” jawabnya. Aku pun jengkel, aku tipikal orang yang tidak suka dengan tebak2an usil seperti ini. “Maaf kalo ga penting2 bgt ga usah ganggu yaa..”ketusku. “hahha..ini Dia, temen Citra dulu.. “tawa Dia diujung telpon. Aku pun kaget dan tidak bisa berkata2 dalam beberapa detik. Aku kaget ternyata Dia masih ingat dengaku. Kita pun berbincang panjang lebar dan larut dalam kenangan waktu itu. Dia tetap saja usil dan selalu meledekku! Tapi aku tidak marah, aku senang Dia dengan gayanya selalu berusaha membuatku tersenyum. Setelah komunikasi yang cukup intens, kami pun jatuh cinta. Aku dan Dia Long Distance Relationship. Komunikasi pun hanya sebatas telpon (itu pun jarang), sms dan chatting. Namun tidak pernah ada pikiran negatif tentang Dia. Aku percaya sepenuhnya kepada Dia dan Dia pun seperti itu. Hubungan kami pun semakin berlanjut, hingga pada tahun 2009 aku dan Dia memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Bahagianya aku waktu itu, aku selalu menjaga komitmen antara aku dan Dia. Dia tidak posesif, pernah suatu hari Dia mengetahui aku diantar pulang oleh seseorang yang menyukaiku. Dia tidak marah, Dia justru berterima kasih kepada orang itu karena telah menjaga ku karena Dia tau Dia tidak bisa setiap waktu ada disampingku. Dia juga percaya jika aku tidak mungkin berpaling atau mengkhianati Dia. Ketika itu aku semakin yakin, kalau Dia lah sosok yang tepat untukku. Selama aku berkenalan dengan lelaki, Dia lah yang mampu ‘mengendalikan’ aku walaupun kita jauh. Aku segan, aku patuh dan aku takut jika Dia marah. Aku salut dengan Dia.

1 Tahun aku menjalin hubungan dengan Dia. Mulai tampak masalah2 yang ada. Mulai dari sifat cuek Dia, kecurigaanku terhadap Dia. Sampai pada suatu hari aku sedang dirundung banyak masalah. Aku berusaha untuk menceritakan semua dengan Dia. Aku kecewa dan aku tidak dapat mengontrol emosiku. Hingga pada akhirnya keluarlah kata2 kasar dari mulutku. Dia kecewa, dan aku pun ditinggalkan oleh Dia. Ya..Dia memutuskan hubungannya denganku. Aku hancur. Aku syok. Akhirnya 3bulan aku menyembuhkan rasa sakitku. Aku pun bangkit. Namun, siapa sangka 3 bulan setelah kita berpisah, Dia datang menemuiku. Dia memintaku untuk kembali padanya. Jujur, waktu itu aku masih belum sepenuhnya menghilangkan rasa sayangku kepada Dia. Tapi disisi lain aku merasa dipermainkan oleh Dia. 3 bulan aku susah payah bangkit melupakan Dia, dan waktu itu Dia dengan enaknya datang menemuiku dan mengajakku seperti dulu lagi. Dimana perasaan Dia waktu itu! Aku pun bingung, aku meyakinkan diriku jika aku masih menyayangi Dia. Hingga waktu itu, aku mendapat kabar jika ada seorang gadis yang lebih dari aku menyukai Dia. Dan Dia pun dekat dengan gadis itu. Aku cemburu. Aku mau penjelasan dan aku mau Dia meyakini aku jika Dia tidak mempunyai rasa terhadap gadis itu. Tapi..Dia beranggapan lain, Dia menganggap aku anak kecil yang cemburuan. Aku hanya butuh kepastian. Dia tidak memberikan itu. Malah sikap Dia seolah2 meyakinkan aku jika Dia pun menyukai gadis itu. Gadis yang satu kota dengan Dia. Sejak itu aku berusaha untuk mengurangi rasa sayangku kepada Dia.

Beberapa bulan kemudian, aku bertemu dengan Dika. Sosok yang membuatku selalu tertawa. Dika selalu ada untukku. Hingga pada suatu hari, Dia mengetahui kedekatanku dengan Dika. Dia kecewa, sama dengan kecewanya aku ketika aku tau gadis itu ikut merayakan ulang tahun Dia. Niat merayakan ulang tahun Dia dikotanya hancur sudah. Dia melepasku sepenuhnya dan aku melanjutkan kehidupanku dengan Dika walaupun aku dan Dika tidak pernah terlibat dalam suatu hubungan serius. Satu tahun kedekatanku dengan Dika hanyalah kesenangan semata. Aku tidak menemukan sisi kedewasaan pada diri Dika. Aku rindu sosok pria dewasa seperti Dia. Dan pada suatu hari, Dika meninggalkanku karena gadis lain. Aku hancur. Aku kecewa untuk yang kesekian kalinya. Ketika Dika meninggalkan aku, Dia kembali datang dengan sejuta kedewasaanya. Dia tidak memperlihatkan sikap kecewanya padaku. Padahal aku merasa bersalah karena meninggalkannya demi Dika dan hanya karena emosi pada gadis itu dan Dia. Dia tidak pernah berubah, dengan gaya yang songong Dia tetap saja suka meledekku hanya untuk membuatku tersenyum dan membuat pipiku merah! Dia adalah sosok pria yang dengan mudahnya membuat pipiku merah menahan malu. Hingga detik ini, Dia masih menjadi Dia yang aku kenal dulu. Kedewasaannya membuatku takut! Ya..aku takut kembali jatuh cinta, karena aku tidak mau sakit untuk yg kesekian kalinya. Namun, disisi lain kenanganku bersama Dia perlahan muncul kembali. Aku selalu kagum dengan Dia. Pernah suatu malem, ketika aku mendengarkan iPod kesayanganku, aku memutar lagu secara random dan tiga kali berturut2 lagu milik Andra and The Backbone – Sempurna diputar secara berulang! Aku tertegun menatap iPod, tiba2 saja teringat pertama kali Dia menelponku dan mendedikasikan lagu itu untukku. Aku ingin menangis waktu itu. Tuhan, ternyata aku sangat merindukan Dia!

Yaa..past is past, aku tidak mau berusaha kembali pada Dia meski jauh dilubuk hatiku yang paling dalam aku masih sangat menyayangi Dia. Namun aku sadar aku telah melukai hati Dia, aku tidak akan menuntut atau bahkan mengemis untuk kembali kepada Dia. Biarlah waktu yang menjawab. Aku percaya bahwa cinta tak harus memiliki. Tetaplah menjadi Dia ku. Dia yang selalu membuatku tersenyum. Dia yang selalu meledekku dengan gaya khasmu. Dia yang selalu memotivasiku tentang masa depanku. Dia..tetaplah menjadi Dia ku.🙂

Anonymous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s